Memahat Prasasti Keemasan
Oleh : Ringga Ardiansyah
Malam
itu cahya sang dewi malam masih terjaga dari tidur pulasnya yang
bertahtakan mutiara di angkasa raya yang
memancarkan pesonanya bagai pelita di kegelapan malam yang menyinari luas jagad
raya.Waktu itu,Rani tiba-tiba terbangun dari alam mimpinya seiring dengan suara
sayup sayup adzan subuh dari toa cempreng mushola di ujung gang.Fajar pagi pun
mulai merangkak naik menyinari dunia dengan keagungan sinaran sang
bagaskaranya.Sang bayu pun menjatuhkan embun – embun kecil dari atas
daun.Iringan kokokan ayam menambah bising pagi cerah di wilayah itu.Desian
angin yang menghembus kencang meliukkan dahan pohon seolah berdansa bersama
sang bayu.Memandang dari bawah, sang angkasa pun menunjukkan pesonanya,gumpalan
gumpalan awan putih bagai permadani mega-mega angkasa.
***********
Jam
dinding pada waktu itu masih menunjukkan pukul 05.30.Rani pun sudah tampak
membelalakkan matanya yang bundar.Sinar semangat yang menggebu gebu sudah
terpancar dari parasnya.Senyum manis mengembang dari lesung pipinya menandakan
bahwa asa hari ini harus ia raih.
“Selamat
pagi,mak”teriak Rani dari
kejauhan.Rani memang anak yang ramah,sopan,pintar dan pantang menyerah.Namun,ia
seolah bertahan di atas ketidakpastian dalam alunan melodi-melodi kehidupan
dunia.Manakala Rani dan Bu Murni,ibu Rani harus bekerja silih berganti untuk
membenamkan jauh ke dalam derita nestapa hidup ini.Tak terasa fajar pagi sudah
beranjak menjauh tergantikan dengan bagaskara yang mulai merangkak naik
diantara gumpalan awan,siang itu sang mentari bagai berselimut mega mega
angkasa yang luas selama mata memandang.Panas tercampur debu jalanan seperti
mencabik ganas jiwanya yang berjalan gontai ditambah lemas raganya.Bagai badai
pasir di gurun sahara yang menghempaskan keanggunan dan memudarkan senyum ramah
Rani,di kala itu ia menenteng selembar amplop cokelat kesana kemari mencari
pekerjaan.Namun apalah kata,kerasnya kehidupan di dunia ini menjadikan impian
Rani untuk mencari pekerjaan tak mudah diwujudkan.Tak semudah membalikkan
telapak tangan.
“Ekhemm...lagi
sendirian ya?”celetuk seorang pria berjas yang berdiri di samping rani saat
berada di lobi kantor.
“Ya
iyalah,kan lu dah liat”sahut Rani
ketus.
“Ngomong
ngomong masih kenal ama gue nggak nih?”tanya pria itu.
“Emhh...siapa
ya?”jawab Rani dengan kebingungan.
“Oh
iya...kamu Raka kan temen smp aku
dulu?”cetus Rani dengan leganya.
“Iya...akhirnya
kamu inget juga”jawab Raka.
“Lha
mau ngapa kamu disini?”tanya Raka terheran heran.
“Iya.Aku
mau cari kerja.Lha kamu kok disini juga”Rani balik tanya kepada Raka.
“Bukannya
aku sombong ya,ini tuh kantor perusahaan emang punya ayah aku dan sekarang aku
yang ngejalanin bisnis ini”sahut Raka dengan nada merendah.
“Lha
kamu kok susah susah mau cari kerja?”
“Aku
nggak tega lihat emak kerja serabutan gono gini,aku ingin sedikit meringankan
beban emak.Kamu tahu kan sejak babe meninggal aku sama emak harus menanggung
beban derita hidup ini”cerita Rani kepada Raka sembari mengusap butiran butiran
air yang bertebaran di pelupuk matanya.Di kala itu pula hati Raka bagai perih
tersayat pilu mendengar cerita hidup Rani
yang mengundang awan pekat hitam di hati nuraninya.Di saat yang sam
terlihat jelas benak yang terlintasdi pikirannya.Rasa peduli terhadap Rani yang
akhirnya ia menerima Rani,bukan karena cerita nasib kehidupannya ia menerima
melainkan ketulusan Rani untuk bekerja menjadikan Raka memilihnya sebagai staf
di kantornya.Dapat dilihat dari sikapnya Rani memang perempuan yang tak mau
tinggal diam dengan ketidakmampuan keluarganya untuk menerjang ganasnya alun
gelombang kehidupannya,pantang menyerah,pekerja keras dan perempuan yang tegar
menjalani cobaan tuhan.
***********
Tanpa
terasa sang bagaskara perlahan kembali ke peraduannya.Guratan jingga terlukis
indah di atas mega mega angkasa yang bagai kain kanvas yang menjadi alas sebuah
coretan indah karya Tuhan.Suara tonggeret pun mulai terdengar nyaring memecah
kesunyian senja.Suara kepakan burung yang terbang kembali ke sarangnya pun
bagai teman senja yang selalu berjalan beriringan.Hembusan sang bayu mengiringi
langkah Rani kembali ke istana kecilnya yang ia tempati bersama emaknya
tercinta.
***********
Sesampainya
tiba di rumah ia langsung merebahkan badannya ke ranjang yang sudah lapuk
dimakan rayap alias udah uzur.Sembari merebahkan badannya ia mengusap butiran
air yang sering kali menetes mengenai dahinya.
“Ran,dah
pulang nak?”tanya emak sembari menyiapkan singkong rebus di meja.
“Udah
mak,”jawab Rani dengan nada yang lirih karena letih di pundaknya.
“Ayo
sini makan gih!”pinta emak.
“O
ya mak,”sahut Rani.
Lima
menit setelah makan ia langsung beranjak dari kursi menuju ke tempat tidurnya.
***********
Senja
telah beranjak menjauh pergi terusir dengan cahya sang dewi malam.Gelap sudah
bergelayut di keheningan malam.Terlihat dewi malam yang bertahtakan tebaran
mutiara mutiara angkasa raya.Entah badai apa yang melanda jiwa Rani seketika ia
meneteskan deraian air mata yang membendung di pelupuk mata,manakala ia
teringat pesan sang ayah selagi babenya masih hidup”Nak,tolong jaga dirimu dan emakmu.Babe minta beri emakmu kebahagiaan
lebih dari apa yang babe berikan kepada keluarga saat babe masih hidup di
dunia.Kejar impianmu raihlah harapanmu.Segenggam harapan dan sejuta mimpi harus
kau buktikan pada dunia nak.Semangat!!!”itulah sepenggal pesan yang datang
tak terundang kala lamunannya berlangsung tiba tiba dan seketika juga
lamunannya buyar ketika suara jangkrik menyadarkan Rani dari keheningan malam
itu.Sayup sayup mata Rani membawa jiwanya seolah terbang ke alam mimpinya di
gemerlap selimut malam.Malam telah berlalu meninggalkan seberkas mimpi untuk
Rani.Sepenggal mimpi itu menyatakan ia berjumpa dengan seorang pria yang
berpasar samar samar mirip pesona wajah Raka yang bermata agak sipit,bukan
hanya itu ia juga mendapat bisikan dari seseorang entah siapa itu,orang itu
berbisik dekat di telinga Rani bahwa suatu hari nanti pria yang ada didalam
mimpinya tersebut akan menjadi pasangan hidupnya untuk mengarungi bahteri rumah
tangga di atas alun gelombang kehidupan yang terkadang ganas menerjang.
***********
Surya
pagi menjemput Rani dengan sinarnya yang mengetuk kaca dengan kilauan dari
jendela kaca kamarnya.Kicauan burung pun menambah melodi gemerlap pagi hari
yang penuh energi untuk meraih mimpi.Saat itu Rani telah bersiap untuk bekerja
di perusahaan Raka.Gugup mewarnai paras anggun Rani Nuraini yang berkerudung
cokelat.Namun,bukan Rani kalau tidak bisa membuang jauh jauh rasa gugup
tersebut dan akhirnya ia bisa dan lancar bekerja setiap hari.Setahun berlalu ia
lewati dengan tegar cobaan yang silih berganti menerjang hidupnya maupun dalam
ia berkarya.
***********
Banyak
masalah yang ia temui dalam perjalanan hidupnya namun kesabaran selalu menjadi
pedoman dalam rintangan yang ia temui di setiap susuran jalan hidup juga torehan
takdirnya.Bagai kejatuhan bulan hidup Rani berubah seratus delapan puluh
derajat saat ia dipinang Raka seorang direktur yang dulu teman SMP nya.Bahagia
mungkin hanya itu yang terucap lisan di bibir keluarganya.Sungguh nikmat melodi
kehidupan ini.Tak hanya itu ia lega telah melaksanakan pesan babenya untuk
mencapai puncak kebahagiaan dan memetik hasilnya.Perjalanan Rani dari nol
menuju tingkat kesuksesan memanglah sulit,pernah ia berjalan tertatih menyusuri
gelap kehidupan tanpa ada pelita yang menerangi jalan hidupnya namun ia tetap
bangkit dan menghalau badai yang ganas melandanya.Detik demi detik,jam menuju
jam selalu ia warnai dengan ketegaran yang terpatri di dadanya.Hari demi
hari,bulan demi bulan ia bekerja keras agar dapat memahat batu dan menyulapnya
menjadi bongkahan emas yang menjadi harapannya sejak babenya meningaal.Memang
Allah adil,hamba-Nya yang setia,sabar,berusaha maupun bekerja keras ialah yang
dapat menikmati sebuah kehidupan dari air kenikmatan yang mengucur selalu
karena-Nya.
0 komentar :
Posting Komentar