Pages

Sabtu, 17 Mei 2014

Memahat Prasasti Keemasan
Oleh : Ringga Ardiansyah

Malam itu cahya sang dewi malam masih terjaga dari tidur pulasnya yang bertahtakan  mutiara di angkasa raya yang memancarkan pesonanya bagai pelita di kegelapan malam yang menyinari luas jagad raya.Waktu itu,Rani tiba-tiba terbangun dari alam mimpinya seiring dengan suara sayup sayup adzan subuh dari toa cempreng mushola di ujung gang.Fajar pagi pun mulai merangkak naik menyinari dunia dengan keagungan sinaran sang bagaskaranya.Sang bayu pun menjatuhkan embun – embun kecil dari atas daun.Iringan kokokan ayam menambah bising pagi cerah di wilayah itu.Desian angin yang menghembus kencang meliukkan dahan pohon seolah berdansa bersama sang bayu.Memandang dari bawah, sang angkasa pun menunjukkan pesonanya,gumpalan gumpalan awan putih bagai permadani mega-mega angkasa.
***********
Jam dinding pada waktu itu masih menunjukkan pukul 05.30.Rani pun sudah tampak membelalakkan matanya yang bundar.Sinar semangat yang menggebu gebu sudah terpancar dari parasnya.Senyum manis mengembang dari lesung pipinya menandakan bahwa asa hari ini harus ia raih.
“Selamat pagi,mak”teriak Rani dari kejauhan.Rani memang anak yang ramah,sopan,pintar dan pantang menyerah.Namun,ia seolah bertahan di atas ketidakpastian dalam alunan melodi-melodi kehidupan dunia.Manakala Rani dan Bu Murni,ibu Rani harus bekerja silih berganti untuk membenamkan jauh ke dalam derita nestapa hidup ini.Tak terasa fajar pagi sudah beranjak menjauh tergantikan dengan bagaskara yang mulai merangkak naik diantara gumpalan awan,siang itu sang mentari bagai berselimut mega mega angkasa yang luas selama mata memandang.Panas tercampur debu jalanan seperti mencabik ganas jiwanya yang berjalan gontai ditambah lemas raganya.Bagai badai pasir di gurun sahara yang menghempaskan keanggunan dan memudarkan senyum ramah Rani,di kala itu ia menenteng selembar amplop cokelat kesana kemari mencari pekerjaan.Namun apalah kata,kerasnya kehidupan di dunia ini menjadikan impian Rani untuk mencari pekerjaan tak mudah diwujudkan.Tak semudah membalikkan telapak tangan.
“Ekhemm...lagi sendirian ya?”celetuk seorang pria berjas yang berdiri di samping rani saat berada di lobi kantor.
“Ya iyalah,kan lu dah liat”sahut Rani ketus.
“Ngomong ngomong masih kenal ama gue nggak nih?”tanya pria itu.
“Emhh...siapa ya?”jawab Rani dengan kebingungan.
“Oh iya...kamu Raka kan temen smp aku dulu?”cetus Rani dengan leganya.
“Iya...akhirnya kamu inget juga”jawab Raka.
“Lha mau ngapa kamu disini?”tanya Raka terheran heran.
“Iya.Aku mau cari kerja.Lha kamu kok disini juga”Rani balik tanya kepada Raka.
“Bukannya aku sombong ya,ini tuh kantor perusahaan emang punya ayah aku dan sekarang aku yang ngejalanin bisnis ini”sahut Raka dengan nada merendah.
“Lha kamu kok susah susah mau cari kerja?”
“Aku nggak tega lihat emak kerja serabutan gono gini,aku ingin sedikit meringankan beban emak.Kamu tahu kan sejak babe meninggal aku sama emak harus menanggung beban derita hidup ini”cerita Rani kepada Raka sembari mengusap butiran butiran air yang bertebaran di pelupuk matanya.Di kala itu pula hati Raka bagai perih tersayat pilu mendengar cerita hidup Rani  yang mengundang awan pekat hitam di hati nuraninya.Di saat yang sam terlihat jelas benak yang terlintasdi pikirannya.Rasa peduli terhadap Rani yang akhirnya ia menerima Rani,bukan karena cerita nasib kehidupannya ia menerima melainkan ketulusan Rani untuk bekerja menjadikan Raka memilihnya sebagai staf di kantornya.Dapat dilihat dari sikapnya Rani memang perempuan yang tak mau tinggal diam dengan ketidakmampuan keluarganya untuk menerjang ganasnya alun gelombang kehidupannya,pantang menyerah,pekerja keras dan perempuan yang tegar menjalani cobaan tuhan.
***********
Tanpa terasa sang bagaskara perlahan kembali ke peraduannya.Guratan jingga terlukis indah di atas mega mega angkasa yang bagai kain kanvas yang menjadi alas sebuah coretan indah karya Tuhan.Suara tonggeret pun mulai terdengar nyaring memecah kesunyian senja.Suara kepakan burung yang terbang kembali ke sarangnya pun bagai teman senja yang selalu berjalan beriringan.Hembusan sang bayu mengiringi langkah Rani kembali ke istana kecilnya yang ia tempati bersama emaknya tercinta.
***********
Sesampainya tiba di rumah ia langsung merebahkan badannya ke ranjang yang sudah lapuk dimakan rayap alias udah uzur.Sembari merebahkan badannya ia mengusap butiran air yang sering kali menetes mengenai dahinya.
“Ran,dah pulang nak?”tanya emak sembari menyiapkan singkong rebus di meja.
“Udah mak,”jawab Rani dengan nada yang lirih karena letih di pundaknya.
“Ayo sini makan gih!”pinta emak.
“O ya mak,”sahut Rani.
Lima menit setelah makan ia langsung beranjak dari kursi menuju ke tempat tidurnya.
***********
Senja telah beranjak menjauh pergi terusir dengan cahya sang dewi malam.Gelap sudah bergelayut di keheningan malam.Terlihat dewi malam yang bertahtakan tebaran mutiara mutiara angkasa raya.Entah badai apa yang melanda jiwa Rani seketika ia meneteskan deraian air mata yang membendung di pelupuk mata,manakala ia teringat pesan sang ayah selagi babenya masih hidup”Nak,tolong jaga dirimu dan emakmu.Babe minta beri emakmu kebahagiaan lebih dari apa yang babe berikan kepada keluarga saat babe masih hidup di dunia.Kejar impianmu raihlah harapanmu.Segenggam harapan dan sejuta mimpi harus kau buktikan pada dunia nak.Semangat!!!”itulah sepenggal pesan yang datang tak terundang kala lamunannya berlangsung tiba tiba dan seketika juga lamunannya buyar ketika suara jangkrik menyadarkan Rani dari keheningan malam itu.Sayup sayup mata Rani membawa jiwanya seolah terbang ke alam mimpinya di gemerlap selimut malam.Malam telah berlalu meninggalkan seberkas mimpi untuk Rani.Sepenggal mimpi itu menyatakan ia berjumpa dengan seorang pria yang berpasar samar samar mirip pesona wajah Raka yang bermata agak sipit,bukan hanya itu ia juga mendapat bisikan dari seseorang entah siapa itu,orang itu berbisik dekat di telinga Rani bahwa suatu hari nanti pria yang ada didalam mimpinya tersebut akan menjadi pasangan hidupnya untuk mengarungi bahteri rumah tangga di atas alun gelombang kehidupan yang terkadang ganas menerjang.
***********
Surya pagi menjemput Rani dengan sinarnya yang mengetuk kaca dengan kilauan dari jendela kaca kamarnya.Kicauan burung pun menambah melodi gemerlap pagi hari yang penuh energi untuk meraih mimpi.Saat itu Rani telah bersiap untuk bekerja di perusahaan Raka.Gugup mewarnai paras anggun Rani Nuraini yang berkerudung cokelat.Namun,bukan Rani kalau tidak bisa membuang jauh jauh rasa gugup tersebut dan akhirnya ia bisa dan lancar bekerja setiap hari.Setahun berlalu ia lewati dengan tegar cobaan yang silih berganti menerjang hidupnya maupun dalam ia berkarya.
***********

Banyak masalah yang ia temui dalam perjalanan hidupnya namun kesabaran selalu menjadi pedoman dalam rintangan yang ia temui di setiap susuran jalan hidup juga torehan takdirnya.Bagai kejatuhan bulan hidup Rani berubah seratus delapan puluh derajat saat ia dipinang Raka seorang direktur yang dulu teman SMP nya.Bahagia mungkin hanya itu yang terucap lisan di bibir keluarganya.Sungguh nikmat melodi kehidupan ini.Tak hanya itu ia lega telah melaksanakan pesan babenya untuk mencapai puncak kebahagiaan dan memetik hasilnya.Perjalanan Rani dari nol menuju tingkat kesuksesan memanglah sulit,pernah ia berjalan tertatih menyusuri gelap kehidupan tanpa ada pelita yang menerangi jalan hidupnya namun ia tetap bangkit dan menghalau badai yang ganas melandanya.Detik demi detik,jam menuju jam selalu ia warnai dengan ketegaran yang terpatri di dadanya.Hari demi hari,bulan demi bulan ia bekerja keras agar dapat memahat batu dan menyulapnya menjadi bongkahan emas yang menjadi harapannya sejak babenya meningaal.Memang Allah adil,hamba-Nya yang setia,sabar,berusaha maupun bekerja keras ialah yang dapat menikmati sebuah kehidupan dari air kenikmatan yang mengucur selalu karena-Nya.

0 komentar :

Posting Komentar